Selain batuan metamorf, sedimen dan batuan beku terdapat satu lagi jenis batuan yang sangat unik yaitu batuan piroklastik, Kenapa disebut batuan yang unik ?. Hal ini dikarenakan secara genetis, kelompok batuan ini lebih dekat dengan batuan ekstrusif, tetapi secara deskriptif dan cara terjadinya memperlihatkan ciri (struktur dan tekstur) yang mirip dengan kelompok batuan sedimen klastik. Kelompok batuan ini di definisikan sebagai batuan yang dihasilkan (secara langsung) oleh aktifitas erupsi secara eksplosif dari gunung api. Karena mempunyai sifat yang unik, maka terminologi yang digunakan untuk pemerian batuan ini juga khusus.
Batuan piroklastik sangat berbeda teksturnya dengan batuan beku, apabila batuan beku adalah hasil pembekuan langsung dari magma atau lava, jadi dari fase cair ke fase padat dengan hasil akhir terdiri dari kumpulan kristal, gelas ataupun campuran dari kedua-duanya. Sedangkan batuan piroklastik terdiri dari himpunan material lepas-lepas (dan mungkin menyatu kembali) dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh aktifitas gunung api, yang berupa material padat berbagai ukuran (dari halus sampai sangat kasar, bahkan dapat mencapai ukuran bongkah). Oleh karena itu klasifikasinya didasarkan atas ukuran butir maupun jenis butirannya.
Pengamatan petrografi dari batuan piroklastik ini sangat terbatas, oleh karena itu sangat di anjurkan, untuk mempelajari dengan baik dari kelompok batuan piroklastik ini harus dilakukan pengamatan di lapangan, karena keterbatasan yang dimiliki bila hanya dilakukan pengamatan mikroskopi saja. ( Yuwono, 2002)
Contoh dari batuan piroklastik yaitu :
BAB I
PETROLOGI BATUAN PIROKLASTIK
Petrologi adalah bidang geologi yang berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi pembentukannya. Ada tiga cabang petrologi, berkaitan dengan tiga tipe batuan: beku, metamorf, dan sedimen. Kata petrologi itu sendiri berasal dari kata Bahasa Yunani petra, yang berarti "batu". •Petrologi batuan beku berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan beku (batuan seperti granit atau basalt yang telah mengkristal dari batu lebur atau magma). Batuan beku mencakup batuan volkanik dan plutonik.
•
Batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk dari letusan gunung api (berasal dari pendinginan dan pembekuan magma) namun seringkali bersifat klastik.
•
Petrologi batuan sedimen berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan sedimen (batuan seperti batu pasir atau batu gamping yang mengandung partikel-partikel sedimen terikat dengan matrik atau material lebih halus).•Petrologi batuan metamorf berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan metamorf (batuan seperti batu sabak atau batu marmer yang bermula dari batuan sedimen atau beku tetapi telah melalui perubahan kimia, mineralogi atau tekstur dikarenakan kondisi ekstrim dari tekanan, suhu, atau keduanya).Petrologi memanfaatkan bidang klasik mineralogi, petrografi mikroskopis, dan analisa kimia untuk menggambarkan komposisi dan tekstur batuan. Ahli petrologi modern juga menyertakan prinsip geokimia dan geofisika dalam penelitan kecenderungan dan siklus geokimia dan penggunaan data termodinamika dan eksperimen untuk lebih mengerti asal batuan. Petrologi eksperimental menggunakan perlengkapan tekanan tinggi, suhu tinggi untuk menyelidiki geokimia dan hubungan fasa dari material alami dan sintetis pada tekanan dan suhu yang ditinggikan. Percobaan tersebut khususnya berguna utuk menyelidiki
batuan pada kerak bagian atas dan mantel bagian atas yang jarang bertahan dalam perjalanan kepermukaan pada kondisi asli.
1. Pengertian Batuan Piroklastik
Batuan piroklastik atau pyroclastics (berasal dari bahasa Yunani π ρ, yangῦ
berarti api; dan κλαστός, yang berarti rusak) adalah bebatuan clastic semata-mata
atau terutama terdiri dari material vulkanik. Mana materi vulkanik telah diangkut
dan ulang melalui tindakan mekanis, seperti oleh angin atau air, batu-batuan ini
disebut volcaniclastic. Umumnya terkait dengan aktivitas gunung berapi ledakan -
seperti Plinian atau letusan Krakatau gaya, atau letusan phreatomagmatic -
piroklastik deposito yang umumnya terbentuk dari udara abu, dan bom lapilli atau
blok yang dikeluarkan dari gunung berapi itu sendiri, dicampur dengan negara
hancur batu. Batuan piroklastik dapat terdiri dari berbagai macam ukuran clast; dari agglomerates terbesar, dengan sangat halus dan tuffs abu.
Pyroclasts dengan
ukuran yang berbeda diklasifikasikan sebagai bom vulkanik, lapilli dan abu
vulkanik. Abu dianggap piroklastik karena debu halus terbuat dari batu vulkanik.
Salah satu bentuk yang paling spektakuler adalah deposito piroklastik ignimbrites,
deposito dibentuk oleh suhu tinggi gas dan abu campuran dari aliran piroklastik
acara.
Tiga jenis transportasi dapat dibedakan: aliran piroklastik, aliran
piroklastik, dan piroklastik jatuh. Selama letusan Plinian, batu apung dan abu
yang terbentuk ketika magma silicic terpecah dalam saluran vulkanik, karena
dekompresi dan pertumbuhan gelembung. Pyroclasts kemudian entrained dalam letusan apung membanggakan yang dapat naik beberapa kilometer ke udara dan menyebabkan bahaya penerbangan.
Partikel jatuh dari awan letusan bentuk
lapisan di tanah (ini jatuh atau tephra piroklastik). Piroklastik kerapatan arus, yang disebut sebagai 'aliran' atau 'gelombang', tergantung pada konsentrasi partikel dan tingkat turbulensi, kadang-kadang disebut bercahaya longsoran.
Deposit batu
apung yang kaya aliran piroklastik dapat disebut ignimbrites.
Sebuah letusan piroklastik mensyaratkan meludah atau "fountaining" lava, di mana lava akan dilemparkan ke udara bersama abu, bahan piroklastik, dan vulkanik produk sampingan lainnya. Hawaii letusan seperti di Kilauea dapat mengeluarkan gumpalan magma ditangguhkan menjadi gas; ini disebut 'api air mancur'. Pembekuan magma, jika cukup panas mungkin menyatu atas arahan untuk membentuk aliran lahar.
Terdiri dari endapan piroklastik yang tidak
pyroclasts disemen bersama-sama. Batuan piroklastik (tuff) adalah deposito
piroklastik yang telah lithified.Batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk dari letusan gunung api (berasal dari pendinginan dan pembekuan magma) namun seringkali bersifat klastik. Menurut william (1982) batuan piroklastik adalah batuan volkanik yang bertekstur klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunung api, dengan material asal yang berbeda, dimana material penyusun tersebut terendapkan dan terkonsolidasi sebelum mengalami transportasi (“rewarking”) oleh air atau es.Pada kenyataannya, batuan hasil letusan gunung api dapat berupa suatu hasil lelehan yang merupakan lava yang telah dibahas dan diklasifakasikan ke dalam batuan beku, serta dapat pula berupa produk ledakan atau eksplosif yang bersifat fragmental dari semua bentuk cair, gas atau padat yang dikeluarkan dengan jalan erupsi. Berdasarkan proses keterbentukan yang dialaminya, batuan piroklastik dibedakan menjadi enam tipe, antara lain :1. Tipe IBatuan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik jatuh ke darat yang kering dengan medium udara saja, kemudian mengalami litifikasi membentuk batuan fragmental. Jadi batuan piroklastik ini belum mengalami pengangkutan.2. Tipe IIBahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat volkanik ke tempat pengendapannya di daratan yang kering dengan media gas yang dihasilkan dari
magma sendiri yang merupakan aliran abu yang merupakan onggokan aliran litifikasi dan membentuk batuan fragmental.3. Tipe IIIBahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat erupsi yang jatuh ada suatu tubuh perairan (baik darat maupun laut) yang tenang arusnya sangat kecil. Onggokan tersebut belum tercampur dengan material lain dan tidak juga mengalami “re-warking”.4. Tipe IVBahan piroklastik setelah dilemparkan dari pusat eruosi yang jatuh pada suatu tubuh perairan (baik darat maupun laut) yang arusnya aktiv (begerak). Sebelum mengalami litifikasi mengalami ‘re-warking’ dan dapat bercampur dengan batuan lain yang dihasilkan akan mempunyai struktur sedimen biasa.5. Tipe VBahan piroklastik yang telah jatuh sebelum mengalami pelapukan kemudian diangkut dan diendapkan di tempat lain (bisa laut, bisa cekungan di daratan) dengan media air. Hasilnya batuan sedimen dengan asal-usulnya adalah bahan-bahan piroklastik, dengan struktur sedimen biasa.6. Tipe VIBahan piroklastik yang telah jatuh sudah mengalami proses-proses litifikasi, kemudian diendapkan kembali ketempat yang lain. Batuan yang dihasilkan adalah batuan sedimen dengan propenan piroklastik (Epiklastik).
2.
Faktor-Faktor yang Diperhatikan Dalam Deskripsi Batuan Piroklastika. Warna BatuanWarna batuan berkaitan erat dengan komposisi mineral penyusunnya.mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya
ehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.b. Tekstur Batuan Pengertian tekstur batuan piroklastik mengacu pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi Glassy dan Fragmental.Pengamatan tekstur meliputi :1.GlassyGlassy adalah tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah glass.2.FragmentalFaragmental ialah tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah fragmen-fragmen hasil letusan gunung api.
c.
Struktur BatuanStruktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang berbeda.pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan dilapangan.pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah:
a.
Masif : bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gasb. Vesikular : dicirikandengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi lagi menjadi 3 yaitu:
•
Skoriaan : bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.•Pumisan : bila lubang-lubang gas saling berhubungan.•Aliran : bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal maupun lubang gas.c. Amigdaloidal : bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder.
d. Berlapis : bila dalam batuan tersebut terdapat lapisan-lapisan endapan dari fragmen-fragmen letusan gunung api.d. Derajat KristalisasiDerajat kristalisasi mineral dalam batuan beku, terdiri atas 3 yaitu :
•
Holokristalin Tekstur batuan beku yang kenampakan batuannya terdiri dari keseluruhan mineral yang membentuk kristal, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi berlangsung begitu lama sehingga memungkinkan terbentuknya mineral - mineral dengan bentuk kristal yang relatif sempurna.
•
Hipokristalin Tekstur batuan yang yang kenampakannya terdiri dari sebagaian mineral membentuk kristal dan sebagiannya membentuk gelas, hal ini menunjukkan proses kristalisasi berlangsung relatif lama namun masih memingkinkan terbentuknya mineral dengan bentuk kristal yang kurang.
•
Holohyalin Tekstur batuan yang kenampakannya terdiri dari mineral yang keseluruhannya berbentuk gelas, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi magma berlangsung relatif singkat sehingga tidak memungkinkan pembentukan mineral - mineral dengan bentuk yang sempurna.
e.
Ukuran BatuanUkuran batuan yang dihasilkan dari letusan gunung api terbagi menjadi 4, antara lain :1. Bomb ( d > 64 mm)
Bomb adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64 mm.2. Block (d > 64 mm)Block adalah batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm.3. Lapili (d = 2 – 64 mm)Lapili berasal dari bahasa latin lapillus, yaitu nama untuk hasil erupsi ekplosif gunung api yang berukuran 2 mm – 64 mm.4. Debu / ash (d < 2 mm)Debu adalah batuan piroklastik yanh berukuran 2 mm – 1/256 mm yang dihasilkan oleh pelelmparan dari magma akibat erupsi ekplosif.f. Bentuk Batuan PiroklastikBentuk batuan dalam batuan piroklastik sama halnya dengan teksturnya, antara lain :1.GlassyGlassy adalah bentuk tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah glass.2.FragmentalFaragmental ialah bentuk tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan tersebut ialah fragmen-fragmen hasil letusan gunung api
Deskripsi :
Warna : Kecoklatan
Sifat batuan : Basa
Struktur : Vesikuler
Derajat kristalisasi : Holohyalin
Tekstur : GlassUkuran : Bomb
Bentuk : Masa dasar Glass
Nama Batuan : Scoria
Petrogenesa : Terbentuk dari batuan piroklastik lava yang dikeluarkan
dari gunung berapi. 1
22. Batuan no. 16BDeskripsi :8
Warna : Hitam
Struktur : Massive
Derajat kristalisasi : Hipokristalin
Tekstur : Fragmental
Ukuran : Lapili (2 – 64 mm)
Bentuk : Fragmental
Komposisi(mineralogy)
Nama mineral 1 : Plagioklas
Warna : Putih
Kilap : Vitreous
Kekerasan : 6 – 6,5Pecahan : uneven
Balahan : tidak jelas terlihat
Bentuk Kristal : monoclin
Jumlah dalam % : 30 %
Nama mineral 2 : Hornblende
Warna : hitam Kilap : vitreous
Kekerasan : 5-6Pecahan : unneven
Balahan : 2,1
Bentuk Kristal :ortorombic
Jumlah dlam % : 20 %
Nama Batuan : Lapili Stone
Petrogenesa : Terbentuk didalam permukaan bumi, tetapi mineral ada yang belum membentuk kristal.
3. Batuan no. 11XDeskripsi :
Warna : Coklat kemerahan
Sifat batuan : Asam
Struktur : Massive
Derajat kristalisasi : Holohyalin
Tekstur : Glassy
Ukuran : Bomb
Bentuk : Glassy
Nama Batuan : Pumice
Petrogenesa : terbentuk dari magma siliceous smapai intermediet dan terbentu di luar pemukaan
4. Batuan no. 7YDeskripsi :
Warna : Putih terang
Struktur : Berlapis
Derajat kristalisasi : Holohyalin
Tekstur : Fragmenta
lUkuran : ash (abu) d<2 mm
Bentuk :Fragmental
Nama Batuan : Tuff
Petrogenesa : Terbentuk diluar permukaan bumi merupakan hasil letusan gunung api yang kemudian diendapkan.
5. Batuan no. 1
Deskripsi :
Warna : Hitam Mengkilat
Struktur : Massive
Derajat kristalisasi : Holohyalin
Tekstur : Glassy
Ukuran : BombBentuk : Glassy
Jumlah dalam % : 100 % Gelas
Nama Batuan : Obsidian
Petrogenesa : Terbentuk secara Rapidly sehingga tidak sempat membentuk kristal dan terbentuk di permukaan.
BAB II
Pembahasan Hasil Praktikum
Pada praktikum petrologi acara batuan beku kali ini, pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan secara megaskopis dengan tujuan untuk menganalisis kemudian melakukan pemerian nama batuan. Peraga batuan yang diamati ada lima macam, antara lain:1. ScoriaBatuan scoria, yang memiliki kenampakan warna yaitu kecokelatan, sifat batuan dari scoria yaitu basa, struktur batuannya vesikuler, dan derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada scoria ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah bomb (d>64 mm). Sadangkan bentuk dari scoria ialah masa dasar glass. Petrogenesa dari batu scoria ini ialah
Terbentuk dari batuan
piroklastik lava yang dikeluarkan dari gunung berapi.
Scoria adalah jenis batuan tekstur dan bukan batu yang diklasifikasikan
oleh mineralogi atau kimia. Terbentuk dari lava yang kaya volatiles atau gas tetapi
kurang kental dari lava membentuk batu apung. Ketika batuan cair meningkat am pipa vulkanik, gas mulai terbentuk dan mengumpulkan dan gas-gas yang
membentuk gelembung besar dalam lava. Batu dipadatkan yang dihasilkan adalah
Scoria. Meskipun ruang terbuka di dapat Scoria batu besar umumnya lebih berat
daripada air yang tidak seperti kebanyakan batu apung bisa mengapung di atas air.
Beberapa bentuk dari Scoria lavas yang mengalir keluar dari gunung
berapi dan beberapa Scoria dapat piroklastik. Terbentuk dari batuan piroklastik
lava yang dikeluarkan dari gunung berapi. Scoria yang juga dikenal sebagai abu,
merupakan komponen utama cinder cone. Sebuah kerucut cinder adalah kecil
tetapi tipe gunung berapi yang sangat umum. Cinder cone juga telah disebut Scoria cones.
Cinder cone jarang tumbuh sangat besar, tetapi kadang-kadang
bentuk yang sangat simetris bukit-bukit berbentuk kerucut.
Scoria tidak memiliki
banyak kegunaan. Bahkan nama ini berasal dari sebuah istilah untuk sampah.
Namun dapat digunakan sebagai batu hias yang menarik dengan warna
kemerahan. Sebagian besar patung-patung Pulau Paskah disebut Moai telah Scoria
batu dalam desain mereka.Bagaimana terbentuk Karena peningkatan tekanan magma pertemuan lebih rendah, gas terlarut dapat exsolve dan membentuk vesikula.
Beberapa vesikula terjebak ketika magma
menggigil dan membeku. Biasanya vesikula kecil, bulat dan tidak menimpa satu sama lain, bukannya mereka membuka satu sama lain dengan sedikit distorsi. Kerucut vulkanik Scoria dapat ditinggalkan setelah letusan, biasanya membentuk gunung dengan kawah di puncak. Contoh adalah Gunung Wellington, Auckland di Selandia Baru, yang seperti Three Kings di selatan kota yang sama telah banyak digali.
Quincan, bentuk unik Scoria, yang digali di Gunung Quincan di
Far North Queensland, Australia. Pertambangan dari Puna Pau on Rapa Nui /
Pulau Paskah adalah sumber Scoria berwarna merah yang digunakan orang untuk
rapanui mengukir yang pukao (atau topknots) untuk patung-patung Moai khas
mereka, dan untuk mengukir beberapa Moai dari. Reticulite ( "benang-renda Scoria") berbeda dari Scoria untuk menjadi kurang padat. Ini dibentuk dari lapisan tipis buih terjadi pada beberapa aliran lava basaltik karena pecahnya vesikel dinding.
Benang kaca yang tipis adalah perpotongan vessicles meledak. Ini adalah batu yang paling ringan di Bumi, dengan bobot kurang dari 0,3.
Kerangka kerja
yang halus-renda benang Scoria begitu terbuka bahwa rata-rata porositas 98-99%.
2. Lapili StoneLapili stone yang memiliki kenampakan warna yaitu hitam, struktur batuannya massive, dan derajat kristalisasinya hipokristalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass dan kristal, tekstur pada lapili stone ialah fragmental dengan ukuran batuannya ialah lapili (d= 2 - 64 mm). Sedangkan bentuk dari lapili stone ialah fragmental. Petrogenesa dari lapili stone ini ialah
terbentuk didalam
permukaan, tetapi mineral ada yang belum membentuk kristal yang utuh. Lapili
stone memilki komposisi mineral dalam batuannya, mineralnya ialah plagioklas
dan hornblende (amphibol). Masing-masin jumlah dalam % dalam batuannya
ialah plagioklase 30% dan amphibol 20%.
a.
Mineral plagioklaseMineral pagioklase kilapnya vitreous, warna yang tampak yaitu putih, kekerasan yang dimiliki oleh mineral hornblande yaitu 6 – 6,5, pecahannya concoidal to uneven, belahannya ialah 2,1 - basal, system kristalnya yaitu monoclinic atau ortorombik, prosentase mineral hornblende pada lapili stone saat pengamatan yaitu mencapai 30%.dari prosentase plagioklase seperti itu dapat di asumsikan bahwa lapili stone tersebut tergolong lapili stone – plagioklase. Mineral plagioklase pada lapilin stone kristalnya masih kurang begitu sempuna, karena hal ini dipengaruhi oleh proses pembentukan dari kristal tersebut yang tidak sempurna. b. Mineral HornblandeMineral Hornblande kilapnya vitreous – dull, warna yang tampak yaitu hitam,kekerasan yang dimiliki oleh mineral hornblande yaitu 5 – 6,pecahannya uneven,belahannya hampir tidak dapat terlihat,system kristalnya yaitu monoclinic atau ortorombik,prosentase mineral hornblende pada andesit saat pengamatan yaitu mencapai 40%.dari prosentase hornblende seperti itu dapat di asumsikan bahwa andesit tersebut tergolong andesit – hornblende. . Sangat gelap coklat hornblendes hitam yang mengandung titanium yang biasa disebut basaltik hornblende, dari kenyataan bahwa mereka biasanya merupakan konstituen dari basalt dan batu yang terkait.Common Hornblende adalah konstituen dari banyak batuan beku dan batuan metamorf seperti granit, syenite, diorite, gabbro, basal, andesit, gneiss, dan schist.Ini adalah mineral utama dari amphibolites.3. PumiceBatuan pumice yang memiliki kenampakan warna yaitu coklat kemerahan, struktur batuannya massive, sifat batuannya ialah asam, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuan pumice ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah Bomb (d > 64 mm). Sedangkan bentuk dari pumice ialah glassy. Petrogenesa dari batuan pumice ialah terbentuk dari batuan asam yang terbetuk dari letusan gunung api.
Batu apung adalah tekstur batu dan bukan batu yang diklasifikasikan oleh
mineralogi atau kimia. Hal ini pada dasarnya busa yang dipadatkan bentuk dari
lava kaya volatiles atau gas. Bila batuan cair adalah effervesing ke titik membentuk buih dan kemudian solidifes, batu apung adalah hasilnya. Batu apung
memiliki banyak ruang terbuka atau vesicules dalam bentuk bulat gelembung,
linier rongga tabung atau tidak teratur. Ada begitu banyak porositas dalam batu
apung yang ada lebih sering kosong daripada batu sebenarnya dan bahkan
beberapa batu apung dapat benar-benar mengapung di atas air.
Beberapa gunung berapi yang terkait laut telah menghasilkan apa yang
dikenal sebagai rakit apung. Mengambang sebenarnya pulau-pulau mini terbuat
dari batu. Pulau batu apung ini bisa eksis selama bertahun-tahun terapung di
sepanjang arus laut. Beberapa mungkin telah bertanggung jawab atas pulau
hopping distribusi hewan dan tumbuhan dari Samudra Pasifik. Beberapa pulau-pulau batu apung memiliki sebenarnya tanaman tumbuh pada mereka.
Batu a
pung berbeda dari obsidian dalam obsidian adalah semua kaca dan tidak
memiliki batu apung vesicules luas. Sebagian besar batu apung adalah asam /
felsic dalam komposisi yang berhubungan dengan rhyolite sejak lavas mereka
cenderung memiliki lebih banyak volatiles, tapi intermediate dan varietas dasar
diketahui terjadi. Scoria adalah jauh lebih berat ropey batuan volkanik yang lebih
besar tetapi kurang produktif vesicules dari batu apung. Ada banyak kegunaan batu apung karena ringan, relatif sulit dan dapat memiliki tepi yang sangat tajam.
Ini digunakan dalam industri kosmetik sebagai pengelupasan pad, menggosok
batu dan sebagai tambahan dalam krim dan lotion. Batu apung's kekerasan
membuatnya berguna sebagai kasar dan ringan memberi keuntungan besar untuk
digunakan sebagai batu hias untuk lansekap. Yang berpori alam membuatnya
menjadi alami untuk filter.
Batu apung (pengucapan / p m s /) adalah istilah untuk tekstur batu vulkanikʌ ɨ
yang merupakan lava berbuih dipadatkan biasanya dibuat ketika super-panas,
bertekanan tinggi batu yang keras dikeluarkan dari gunung berapi. Hal ini dapat terbentuk ketika lava dan air dicampur.
Formasi yang tidak biasa ini disebabkan
oleh tindakan secara simultan dan cepat cepat depressurization pendinginan. The
depressurization menciptakan gelembung dengan menurunkan kelarutan gas
(termasuk air dan CO2) terlarut dalam lava, sehingga mereka cepat exsolve
(seperti gelembung CO2 yang muncul ketika minuman berkarbonasi dibuka). Serentak pendinginan kemudian membeku gelembung dalam matriks. Properties
Batu apung terdiri dari piroklastik kaca yang sangat microvesicular dengan
sangat tipis, tembus dinding-dinding gelembung extrusive batu beku. Hal ini
umumnya, tetapi tidak secara eksklusif dari felsic untuk silicic atau penengah
dalam komposisi (misalnya, rhyolitic, dasit, andesit, pantellerite, phonolite,
trachyte), tetapi komposisi basaltik dan lain diketahui. Batu apung umumnya
berwarna pucat, mulai dari putih, krem, biru atau abu-abu, hijau-cokelat atau
hitam. Ini terbentuk ketika gas vulkanik exsolving dari magma kental nukleasi
gelembung yang tidak dapat dengan mudah decouple dari magma kental sebelum
dingin ke gelas. Batu apung adalah produk umum letusan bahan peledak (Plinian
dan ignimbrite-membentuk) dan umumnya membentuk zona-zona di bagian atas
silicic lavas. Batu apung memiliki porositas rata-rata 90%, dan pada awalnya
mengapung di atas air.
4.
TuffBatu Tuff yang memiliki kenampakan warna yaitu putih terang, struktur batuannya berlapis, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuantuff ialah fragmental dengan ukuran batuannya ialah ash / abu (d < 2 mm). Sedangkan bentuk dari tuff ialah fragmental. Petrogenesa dari batuan terbentuk dari hasil letusan gunung api dan kemudian diendapkan.
Tuff (dari bahasa Italia "tufo") adalah jenis batu yang terdiri dari
konsolidasi abu vulkanik yang dikeluarkan dari lubang ventilasi selama letusan
gunung berapi. Tuff kadang-kadang disebut tufa, terutama bila digunakan sebagai
bahan bangunan, meskipun tufa juga mengacu pada batu yang sangat berbeda
Abu vulkanik
Produk dari letusan gunung berapi adalah gas vulkanik, lava, uap, dan
tephra. Magma meledak ketika berinteraksi hebat dengan gas vulkanik dan uap.
Bahan padat diproduksi dan dilemparkan ke udara oleh letusan gunung berapi
seperti disebut tephra, terlepas dari komposisi atau ukuran fragmen. Jika
potongan-potongan yang dihasilkan ejecta cukup kecil, materi ini disebut abu
vulkanik, yang didefinisikan sebagai partikel-partikel seperti kurang dari 2 mm
dengan diameter, berukuran pasir atau lebih kecil. Partikel-partikel ini kecil,
potongan-potongan slaggy magma dan batuan yang telah dilemparkan ke udara
oleh ledakan uap dan gas lainnya; magma mungkin telah terkoyak-koyak seperti
menjadi vesikuler oleh ekspansi gas di dalamnya.
5.
ObsidianObsidian yang memiliki kenampakan warna yaitu hitam mengkilat, struktur batuannya massive, derajat kristalisasinya holohyalin dimana komposisi mineral penyusunnya mayoritas adalah glass, tekstur pada batuan tuff ialah glassy dengan ukuran batuannya ialah Bomb (d= 2 - 64 mm). Sedangkan bentuk dari tuff ialah glassy. Petrogenesa dari batuan terbentuk secara rapidly sehingga tidak sempat membuntuk kristal.
Obsidian adalah batu beku extrusive terbentuk ketika lava felsic meletus dari
sebuah gunung berapi dan mendinginkan terlalu cepat untuk memungkinkan
kristal untuk membentuk, mengakibatkan kaca. Obsidian berkisar dalam warna
dari hijau menjadi jelas paling sering hitam.
Obsidian biasanya 70% atau lebih
SiO2 dan komposisinya mirip granit atau rhyolite. Obsidian mineral terdiri dari
SiO2 relatif murni (sama seperti kuarsa), tapi tentu saja adalah non-kristalin kaca.
Obsidian adalah kaca vulkanik yang terjadi secara alami terbentuk sebagai
sebuah batu beku extrusive. Hal ini dihasilkan ketika diekstrusi felsic lava dari
gunung berapi mendingin tanpa pertumbuhan kristal. Obsidian umumnya ditemukan di dalam batas-batas aliran lava rhyolitic dikenal sebagai obsidian
mengalir, di mana komposisi kimia (kandungan silika tinggi) menginduksi
viskositas tinggi dan derajat polimerisasi lava. Atom yang inhibisi difusi melalui
ini sangat kental dan polimerisasi lava menjelaskan kurangnya pertumbuhan
kristal. Karena kurangnya struktur kristal, tepi bilah obsidian bisa mencapai
hampir molekul kurus, yang menyebabkan kuno digunakan sebagai proyektil
poin, dan modern yang digunakan sebagai pisau bedah pisau bedah. Asal-usul dan sifat Pliny's Natural History kaca vulkanik fitur yang disebut "Obsidianus", jadi nama dari kemiripannya dengan batu yang ditemukan di Ethiopia oleh salah satu Obsius.
Obsidian adalah mineral seperti, tetapi tidak mineral sejati karena sebagai kaca
tidak kristalin; di samping itu, komposisi terlalu rumit untuk membentuk satu
mineral. Kadang-kadang diklasifikasikan sebagai mineraloid.
Meskipun obsidian
berwarna gelap mirip dengan batu mafic seperti basalt, obsidian komposisi sangat
felsic. Obsidian terdiri dari SiO2 (silikon dioksida), biasanya 70% atau lebih. Batu kristal dengan komposisi obsidian termasuk granit dan rhyolite. Karena obsidian adalah metastabil di permukaan bumi (dari waktu ke waktu kaca halus menjadi mineral kristal), tidak ada obsidian telah ditemukan bahwa lebih tua dari usia Kapur.
Rincian obsidian ini dipercepat dengan adanya air. Obsidian memiliki
kadar air rendah ketika segar, biasanya kurang dari 1% air berdasarkan berat,
tetapi menjadi semakin dehidrasi saat terkena air bawah tanah, membentuk perlite. Tektites pernah dianggap oleh banyak orang sebagai Bulan obsidian dihasilkan oleh letusan gunung berapi, meskipun beberapa ilmuwan sekarang mengikuti hipotesis ini. Pure obsidian biasanya gelap dalam penampilan, meskipun warna bervariasi tergantung pada kehadiran pengotor.
Besi dan magnesium biasanya memberikan
obsidian hijau tua menjadi cokelat ke warna hitam. Sangat sedikit sampel hampir tidak berwarna.
Dalam beberapa batu, dimasukkannya kecil, putih, kristal berkumpul radial kristobalit di kaca hitam menghasilkan jerawat atau pola
kepingan salju (kepingan salju obsidian). Pola-pola tersebut mungkin juga mengandung gelembung gas yang tersisa dari aliran lava, sejajar sepanjang lapisan diciptakan sebagai batuan cair mengalir sebelum didinginkan. Gelembung ini dapat menghasilkan efek yang menarik seperti emas kemilau (kilau obsidian) atau kilau pelangi(rainbow obsidian). Kejadian Obsidian dapat ditemukan di lokasi yang telah mengalami rhyolitic letusan. Hal ini dapat ditemukan di Armenia, Kanada, Chili, Yunani, Islandia, Italia, Kenya, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Skotlandia, Argentina dan Amerika Serikat.
Obsidian aliran yang dapat berjalan kaki di ditemukan dalam calderas dari
Newberry Volcano dan Kedokteran Danau Volcano Cascade Range di barat
Amerika Utara, dan di Kawah Inyo timur Sierra Nevada di California.
Yellowstone National Park memiliki gunung yang mengandung obsidian terletak
antara Mammoth Hot Springs dan Norris Geyser Basin, dan deposito dapat
ditemukan di banyak negara bagian barat AS lainnya termasuk Arizona, Colorado,
New Mexico, Texas, Utah, Oregon dan Idaho. Obsidian juga dapat ditemukan di
bagian timur negara bagian Virginia.
berkumpul radial kristobalit di kaca hitam menghasilkan jerawat atau pola
kepingan salju (kepingan salju obsidian). Pola-pola tersebut mungkin juga mengandung gelembung gas yang tersisa dari aliran lava, sejajar sepanjang lapisan diciptakan sebagai batuan cair mengalir sebelum didinginkan. Gelembung ini dapat menghasilkan efek yang menarik seperti emas kemilau (kilau obsidian) atau kilau pelangi(rainbow obsidian). Kejadian Obsidian dapat ditemukan di lokasi yang telah mengalami rhyolitic letusan. Hal ini dapat ditemukan di Armenia, Kanada, Chili, Yunani, Islandia, Italia, Kenya, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Skotlandia, Argentina dan Amerika Serikat.
Obsidian aliran yang dapat berjalan kaki di ditemukan dalam calderas dari
Newberry Volcano dan Kedokteran Danau Volcano Cascade Range di barat
Amerika Utara, dan di Kawah Inyo timur Sierra Nevada di California.
Yellowstone National Park memiliki gunung yang mengandung obsidian terletak
antara Mammoth Hot Springs dan Norris Geyser Basin, dan deposito dapat
ditemukan di banyak negara bagian barat AS lainnya termasuk Arizona, Colorado,
New Mexico, Texas, Utah, Oregon dan Idaho. Obsidian juga dapat ditemukan di
bagian timur negara bagian Virginia.



10.29
Sisca khellya
Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar